BerandaTokohMengenal Sosok Gus Kikin Tebuireng, cicit Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari

Mengenal Sosok Gus Kikin Tebuireng, cicit Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari

KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) cicit Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

Bagi masyarakat Jombang dan warga Nahdliyin, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin ini bukan nama baru. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, pesantren yang sejak awal berdirinya menjadi salah satu pusat penting perkembangan Islam dan Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Kini, amanahnya bertambah besar.

Dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031 melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Pilihan tersebut sekaligus membawa kembali napas Tebuireng ke panggung kepemimpinan tertinggi organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Latar Keluarga Gus Kikin dan Hubungan dengan Tebuireng

Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Ia berasal dari keluarga pesantren yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan pendidikan Islam di Jombang.

Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan keturunan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Ibunya, Nyai Hj Abidah Ma’shum, merupakan putri Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, yang merupakan putri KH Hasyim Asy’ari. Sedangkan kakeknya, KH Ma’shum bin Ali, merupakan pengasuh Pondok Pesantren Seblak sekaligus penulis kitab ilmu sharaf “Amtsilah at-Tashrifiyah” yang sangat masyhur di kalangan pesantren.

Sementara dari pihak ayah, Gus Kikin merupakan putra KH Mahfudz Anwar, pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang.

Latar keluarga tersebut memberikan Gus Kikin kedekatan dengan tradisi pesantren sejak masa kanak-kanak. Namun, perjalanan pendidikannya menunjukkan bahwa ia tidak hanya menempuh jalur pendidikan keagamaan.

Ia menjalani pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Parimono, kemudian SMP Negeri 1 Jombang dan SMA Negeri 2 Jombang. Setelah itu, Gus Kikin melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan kemudian menempuh pendidikan di Universitas Terbuka.

Di lingkungan pesantren, ia juga pernah belajar di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak.

Kombinasi pendidikan umum dan pesantren tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan intelektual dan profesional Gus Kikin.

Menempuh Pengalaman di Dunia Profesional

Berbeda dengan gambaran umum tentang putra keluarga pesantren yang langsung terjun ke dunia kepengasuhan, Gus Kikin lebih dahulu memiliki pengalaman di sektor profesional.

Latar pendidikan pelayaran membawanya memasuki industri pelayaran. Ia pernah dipercaya sebagai Kepala Cabang Wilayah Cilegon PT Djakarta Lloyd.

Setelah menjalani karier di bidang tersebut, Gus Kikin memperluas aktivitasnya ke dunia usaha. Bidang yang digelutinya cukup beragam, antara lain perdagangan komoditas, transportasi, pelayaran, teknologi informasi, kontraktor, serta sektor minyak dan gas.

Ia juga ikut mendirikan PT Energi Mineral Langgeng yang bergerak di bidang minyak dan gas.

Pengalaman tersebut menjadi modal tersendiri ketika Gus Kikin kemudian semakin aktif dalam pengelolaan pesantren dan organisasi. Pengalaman profesional membuatnya memiliki perspektif mengenai manajemen, tata kelola kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia, serta pentingnya kemandirian ekonomi.

Dalam konteks kehidupan pesantren dan organisasi keagamaan, pengalaman semacam ini menjadi relevan karena lembaga keagamaan tidak hanya berhadapan dengan persoalan pendidikan dan dakwah, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang baik agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dari Pengusaha Kembali ke Pesantren

Keterlibatan Gus Kikin dalam pengelolaan Tebuireng semakin intensif ketika pada 2016 ia dipercaya menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng mendampingi KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Tebuireng memiliki posisi khusus dalam sejarah Islam Indonesia. Pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari tersebut tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan perkembangan pemikiran keislaman dan perjuangan kebangsaan.

Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, Gus Kikin melanjutkan amanah kepengasuhan Tebuireng.

Posisi tersebut membawa konsekuensi yang lebih luas. Pengasuh Tebuireng tidak hanya bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan pesantren, tetapi juga memiliki tanggung jawab kultural untuk menjaga tradisi keilmuan yang telah dibangun selama lebih dari satu abad.

Dalam konteks itu, Gus Kikin memiliki posisi yang cukup unik. Ia merupakan bagian dari keluarga besar Hasyim Asy’ari, tetapi pada saat yang sama memiliki pengalaman profesional di luar pesantren.

Persinggungan dua dunia tersebut menjadi salah satu warna dalam kiprahnya di Tebuireng.

Mengembangkan Tradisi Keilmuan

Salah satu tantangan utama pesantren pada era modern adalah bagaimana mempertahankan tradisi keilmuan sekaligus merespons perubahan sosial dan perkembangan pengetahuan.

Tebuireng sendiri memiliki warisan intelektual yang luas. Pemikiran KH Hasyim Asy’ari, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan pendidikan pesantren, tetapi juga mencakup persoalan akidah, fikih, etika, sosial kemasyarakatan, dan kehidupan kebangsaan.

Di bawah kepemimpinan Gus Kikin, perhatian terhadap kajian pemikiran dan warisan intelektual Hadratussyekh terus dikembangkan, antara lain melalui berbagai aktivitas kajian dan pengembangan lembaga yang bergerak dalam studi keislaman.

Pendekatan semacam ini penting karena keberlanjutan tradisi pesantren tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan mempertahankan bentuk-bentuk lama, tetapi juga oleh kemampuan membaca kembali warisan keilmuan untuk menjawab persoalan baru.

Kiprah di Nahdlatul Ulama

Keterlibatan Gus Kikin dalam organisasi Nahdlatul Ulama berkembang seiring dengan kiprahnya di Tebuireng.

Pada Konferensi Wilayah NU Jawa Timur 2024, ia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029.

Jabatan tersebut memberikan pengalaman baru dalam mengelola organisasi NU pada tingkat wilayah. Jawa Timur memiliki basis pesantren dan warga Nahdliyin yang sangat besar dengan karakter sosial yang beragam.

Dalam kepemimpinan organisasi, Gus Kikin membawa pengalaman yang diperolehnya dari pesantren sekaligus dunia profesional. Salah satu perhatian yang muncul dalam kiprahnya adalah penguatan kelembagaan dan kemandirian ekonomi organisasi.

Sebelumnya, ia juga telah terlibat dalam sejumlah aktivitas dan struktur di lingkungan PBNU.

Dengan pengalaman tersebut, Gus Kikin kemudian menjadi salah satu tokoh yang dipandang memiliki kapasitas untuk memimpin NU di tingkat nasional.

Terpilih sebagai Ketua Umum PBNU

Menjelang Muktamar ke-35 NU, nama Gus Kikin secara resmi didorong sebagai calon Ketua Umum PBNU. Proses pemilihan kemudian berlangsung melalui mekanisme yang ditetapkan dalam muktamar, termasuk penjaringan nama dan musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Dari proses tersebut, sembilan anggota AHWA memilih Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Terpilihnya Gus Kikin memiliki arti penting dari perspektif kesinambungan tradisi. Ia merupakan pengasuh Tebuireng, salah satu pesantren yang memiliki hubungan historis sangat kuat dengan lahirnya NU.

Namun, kepemimpinan PBNU tentu membutuhkan kapasitas yang lebih luas daripada sekadar hubungan genealogis dengan pendiri NU. Organisasi dengan jaringan yang sangat besar seperti NU membutuhkan kemampuan mengelola kelembagaan, membaca perubahan sosial, membangun kaderisasi, serta mengembangkan berbagai bidang pelayanan umat.

Dalam hal tersebut, perjalanan Gus Kikin memberikan bekal yang relatif beragam: pendidikan pesantren, pendidikan umum, pengalaman profesional, kewirausahaan, kepemimpinan pesantren, dan pengalaman organisasi.

Tantangan Kepemimpinan Lima Tahun Ke Depan

Amanah sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 membawa Gus Kikin pada ruang kepemimpinan yang jauh lebih kompleks.

NU saat ini tidak hanya berhadapan dengan isu keagamaan dalam pengertian konvensional. Pendidikan, ekonomi umat, kesehatan, transformasi digital, penguatan pesantren, kaderisasi ulama, hingga perubahan sosial menjadi bagian dari agenda besar organisasi.

Pada saat yang sama, NU memiliki karakter sebagai organisasi yang berakar kuat pada pesantren dan tradisi keulamaan. Karena itu, modernisasi kelembagaan perlu berjalan tanpa kehilangan prinsip dasar yang selama ini menjadi identitas jam’iyyah.

Di titik inilah pengalaman Gus Kikin menjadi relevan untuk dicermati. Ia tumbuh dari tradisi pesantren, memiliki hubungan genealogis dengan pendiri NU, tetapi juga pernah menjalani kehidupan profesional di luar lingkungan pesantren. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam menjalankan amanah baru di PBNU.

Bagi Tebuireng, terpilihnya Gus Kikin juga menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah pesantren dalam melahirkan dan membina kader kepemimpinan. Sementara bagi Nahdlatul Ulama, kepemimpinan baru ini membawa harapan agar tradisi keilmuan, kemandirian kelembagaan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman dapat berjalan secara beriringan.

Gus Kikin kini berada pada fase baru dalam perjalanan pengabdiannya. Dari Tebuireng, tempat ia menjaga salah satu mata rantai penting tradisi keulamaan Nusantara, ia menerima amanah untuk memimpin jam’iyyah yang memiliki jaringan hingga ke berbagai pelosok Indonesia.

Lima tahun ke depan akan menjadi ruang untuk melihat bagaimana pengalaman pesantren, organisasi, dan dunia profesional tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan gerakan bagi Nahdlatul Ulama.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine