BerandaTokohTeladan Guru Sufi dari Tambakberas Jombang

Teladan Guru Sufi dari Tambakberas Jombang

Sebentar lagi, perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan dilaksanakan. Hajatan besar warga NU ini rencananya berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada bulan Agustus mendatang. Jombang menjadi pusaran historis bagi NU, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan para ulama yang lain, menjadi tokoh sentral dalam pergerakan jam’iyyah NU.

Kabupaten Jombang, juga menjadi saksi sejarah pergerakan kelompok-kelompok tarekat mu’tabarah. Tarekat seperti Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah (TQN) mendominasi warga Nahdliyyin dengan pusat seperti Pondok Pesantren Rejoso dan Pondok Pesantren Cukir. Akan tetapi, menurut Martin van Bruinessen ada satu tokoh lebih awal yang menyebarkan tarekat, tepatnya di Dusun Gedang, Tambakberas, yaitu Kiai Usman (Bruinessen, 1992).

Tidak diketahui tahun pasti kelahiran Kiai Usman. Ayah dari Kiai Usman adalah Kiai Hasan yang berasal dari Demak, Jawa Tengah. Konon, Kiai Hasan masih keturunan dari Raden Patah, pendiri kerajaan Demak Bintoro. Menurut cerita tutur, Kiai Hasan dan Nyai Hasan melalui tirakatnya, pernah dilihatkan bongkahan emas saat sedang memasak nasi dalam tungku. Kiai Hasan lalu menggali tanah yang kemudian emas-emas tadi dikubur sambil meratap; “bukan ini Gusti, yang hamba cari”. Dikisahkan bahwa Kiai Hasan dan Nyai Hasan selama 22 tahun melakukan puasa, sampai pada saatnya mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Usman.

Kiai Usman diambil menantu oleh Kiai Soichah (Abdussalam). Kiai Soichah adalah titik awal pendiri Pesantren Tambakberas (1825 M) dan merupakan panglima Pangeran Diponegoro. Kiai Soichah ini merintis awal pesantren dengan memiliki santri 25 orang—populer disebut pondok selawe—dengan tiga gubuk (kamar santri) di Alas Gedang, cikal bakal Pesantren Tambakberas. Tiga gubuk santri ini memiliki arti atau simbol tersendiri. Gubuk santri pertama, ditekankan disiplin pendidikan syariat. Gubuk kedua, menekankan pendidikan kanuragan dan gubuk ketiga, gubuk yang mendalami ilmu tasawuf.

Dari istrinya, Layyinah, Kiai Usman memiliki keturunan di antaranya; Halimah (Winih), Tandur, Cukul, Lilir dan Jebul. Dari putrinya yang bernama Halimah, Kiai Usman memiliki menantu bernama Kiai Asy’ari, yang menurunkan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. 

Menurut beberapa sumber, Kiai Soichah atau Kiai Abdussalam merupakan keturunan Kiai Abdul Jabbar, yang silsilahnya tersambung ke Kiai Abdurrahman (Joko Tingkir). Kiai Soichah juga mempunyai menantu bernama Kiai Said. Kiai Said memperistri putri Kiai Soichah bernama Fathimah. Dari Kiai Said ini menurunkan Kiai Hasbullah, ayah Kiai Abdul Wahab Chasbullah.

Terkait sanad keilmuan tasawuf dan tarekat Kiai Usman, ia mengamalkan tarekat Naqshabandiyyah. Ia mendapatkan sanad tarekat dari Kiai Wahab Joresan, Mlarak, Ponorogo. Namun, ini perlu dikonfirmasi dan ditelusuri secara lebih lanjut untuk penelitian jaringan guru-murid dalam penyebaran tarekat di Nusantara.

Perkembangan Tarekat di Tambakberas Abad 20 M.

Pasca Kiai Usman, pesantren di Tambakberas menekankan pendidikan syariat—walaupun tidak menghapus kurikulum kitab-kitab tasawuf—sebagai kurikulum pengajaran bagi para santri. Kiai-Kiai di Tambakberas tidak secara spesifik menempa para santri agar masuk tarekat, sehingga jenis pesantren-pesantren di Tambakberas bukanlah pesantren tarekat.

Tersebutlah Kiai Mochammad Djamaluddin Ahmad (Kiai Djamal), seorang santri kinasih Kiai Abdul Fattah Hasyim. Kiai Djamal lahir pada 31 Desember 1943 di Dusun Kedungcangkring, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Lahir dari pasangan Kiai Ahmad bin Mustajab dan Nyai Mahmudah. Kiai Djamal sendiri putra ketiga, saudara-saudaranya antara lain; Imam Ghazali, Jawahir dan Zainal Abidin (Achmad, 2013). Dalam bukunya, Mukaffa menyebutkan bahwa Kiai Djamal masih keturunan Prabu Kertawijaya dari jalur Ayah dan Sunan Bayat dari jalur Ibu (Mukaffa, 2018).

Sejak kecil, Kiai Djamal sudah dibekali ilmu pengetahuan Islam dari kakeknya yang bernama Kiai Abdurrahman (jalur Ibu). Seperti halnya rutinitas anak biasa, pagi bersekolah formal di Sekolah Rakyat (SR), siang sampai sore aktivitas bermain dengan teman masa kecilnya dan malam hari belajar di Pesantren. Terhitung, Kiai Djamal nyantri di beberapa pesantren seperti; Tambakberas (Jombang), Lirboyo (Kediri), Lasem (Rembang), Salatiga dan Mranggen. Di Tambakberas, Kiai Djamal menempuh pendidikan pada Madrasah Muallimin Muallimat (MMA), pertemuannya dengan Kiai Abdul Fattah Hasyim. Di Lirboyo, Kiai Djamal rutin pengajian musiman (Kilatan) di bawah asuhan Kiai Marzuqi dan Kiai Makhrus Ali. Di Lasem, sekitar empat tahun di bawah bimbingan Kiai Baidlawi bin Abdul Aziz, Rais Akbar JATMAN. Kehausan akan ilmu, Kiai Djamal masih ingin mencari guru dengan nyantri kepada Kiai Asy’ari, Poncol, Salatiga dan Kiai Muslih Mranggen, Demak.

Kiai Djamal diambil menantu oleh Kiai Abdul Fattah Hasyim pada tahun 1967. Dinikahkan dengan salah satu putrinya yang bernama Nyai Hurriyah. Dari pernikahan ini, Kiai Djamal dan Nyai Hurriyah dianugerahi putra-putri di antaranya; Ummu Salamah, Muhammad Idris, Bashiratul Hidayah, Lathifah Hidayati, Zuhrotul Makkiyah.

Kiai Djamal merintis beberapa pesantren di antaranya; Pondok Pesantren Al-Fattah (Ma’hadul Yatama), Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Pondok Pesantren Al-Mardliyyah, Pondok Pesantren Al-Amanah, Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Pondok Pesantren Al-Asror dan Pesantren Al-Abror. Terkait pola pendidikan tasawuf, di Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Kiai Djamal mengajarkan kitab-kitab wajib seperti Sirāj al-Ṭālibīn karya Syekh Ihsan Jampes dan Al-Ḥikam karya Syekh Ibnu ʿAṭāʾillah al-Sakandarī. Sedangkan di Pesantren Al-Mardliyyah, Kiai Djamal dibantu oleh menantunya, Kiai Yahya Husnan merintis kurikulum unggulan tahfidz Al-Qur’an di samping kajian kitab kuning. Kitab-kitab yang dikaji seperti Al-Ḥikam, Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn dan Tanbīh al-Ghāfilīn. Mayoritas santri putri di pesantren ini, telah dibaiat tarekat Syadziliyyah–Qadiriyyah dan setiap Kamis malam Jum’at mengamalkan rutinan khuṣuṣiyyah.

Kiai Djamal tidak hanya meneruskan tradisi ulama Jawa pendahulunya dalam menghasilkan karya tulis di bidang tasawuf, tetapi juga terjun langsung dalam organisasi tarekat Syadziliyyah sejak 1973. Kiprahnya di tarekat yang berpusat di Pesantren PETA Tulungagung ini berawal dari keikutsertaannya dalam ritual khuṣuṣiyyah di mushola Desa Tambak Rejo bimbingan Kiai Sodiq. Lewat perantara Kiai Sodiq pula, Kiai Djamal akhirnya mengikrarkan baiat kepada Kiai Abdul Jalil bin Mustaqim di Tulungagung (Safik, 2011).

Kiai Djamal memegang posisi yang amat istimewa dalam tarekat Syadziliyyah di Pesantren PETA, jauh melampaui kedudukan anggota biasa. Kepercayaan tinggi dari sang mursyid, Kiai Abdul Jalil bin Mustaqim, terbukti dari penyerahan tanggung jawab penuh atas pendidikan putranya, Charir Muhammad Sholahuddin al-Ayubi (Gus Din). Ketika Gus Din memegang pimpinan, rasa hormatnya kepada Kiai Djamal tetap bertahan. Gus Din tidak hanya memandangnya sebagai guru, tetapi juga pakar tasawuf berkeilmuan mendalam, sehingga ia mewajibkan karya-karya Kiai Djamal dibaca oleh seluruh pengamal tarekat Syadziliyyah di lingkungan Pesantren PETA.

Dari Kiai Usman dan Kiai Djamal, kita perlu meneladani himmah dua ulama tarekat ini. Dari jalur Kiai Usman, menurunkan tokoh-tokoh bangsa seperti Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Sedangkan Kiai Djamal ulama yang produktif, selalu istiqāmah dalam mengajar dan membimbing murid-muridnya.


Referensi:

Achmad, Moch. Djamaluddin. Napak Tilas Auliya Tahun 2013. Jombang: Pustaka Al-Muhibbin, 2013.

Mukaffa, Zumrotul. Guru Sufi Menelusuri Jejak Gerakan Pendidikan Tasawuf KH. Moch. Djamaluddin Ahmad. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2018.

Tim Sejarah Tambak Beras. Tambak Beras, Menelisik Sejarah Memetik Uswah. Jombang: Pustaka Bahrul Ulum, 2017.

van Bruinessen, Martin. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: survei historis, geografis, dan sosiologis. Bandung: Mizan, 1992.

Mas’ud, Ali. 2017. “Transmisi Dan Motif Pengajian Al-Ḥikam Ibn Aṭā’ Allah Al-Sakandarī Di Pesantren Tambak Beras Jombang”. Teosofi: Jurnal Tasawuf Dan Pemikiran Islam 7 (1):1-29. https://doi.org/10.15642/teosofi.2017.7.1.1-29.

Safik, Abdullah. 2011. “Ritual Pengikut Tarekat Shâdhilîyah Di Tambak Beras, Jombang-Jawa Timur”. Teosofi: Jurnal Tasawuf Dan Pemikiran Islam 1 (2):160-74. https://doi.org/10.15642/teosofi.2011.1.2.160-174.

Fao, Ahmad. “Mengenal Kiai Usman, Leluhur Hadratussyaikh”. Diakses 8 Juli 2026. https://www.tebuireng.co/mengenal-kiai-usman-leluhur-hadratussyaikh/ 

Pondok Bahrul Ulum Putra. “Mbah Said, Sang Kiai Pondok Syariat (Pengasuh Pertama)”. Diakses 9 Juli 2026. https://pondokbahrululumputra.blogspot.com/2018/02/mbah-said-sang-kiai-pondok-syariat.html 

Redaksi Jaringan Santri. “Sosok KH. Asy’ari, Ayahanda Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari”. Diakses 9 Juli 2026. https://jaringansantri.com/sosok-kh-asyari-ayahanda-kh-hasyim-asyari/

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine