BerandaBeritaJATMAN Perkuat Jejaring Naqshabandiyyah Dunia Melalui Tiga MoU di Bukhara

JATMAN Perkuat Jejaring Naqshabandiyyah Dunia Melalui Tiga MoU di Bukhara

Bukhara, JATMAN Online

Forum International Naqshbandi Conference 2026 di Bukhara Technology Institute, Kota Bukhara, Uzbekistan, tidak berhenti pada pertukaran gagasan dan refleksi intelektual mengenai warisan spiritual Naqshabandiyyah. Pertemuan para ulama, mursyid, akademisi, dan pengamal tarekat dari berbagai penjuru dunia tersebut juga menjadi momentum strategis untuk memperluas jejaring persaudaraan dan membangun kerja sama kelembagaan lintas negara.

Di hadapan forum internasional tersebut, Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) melalui Mudir Ali Idarah Aliyyah, Prof. Dr. Syeikh KH. Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum., melaksanakan dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan tiga lembaga yang memiliki perhatian terhadap pengembangan studi, pendidikan, dakwah, dan tradisi spiritual Islam. Sabtu, (19/9/2026).

Ketiga lembaga tersebut adalah Centre for Sufi Studies & Research, yang dipimpin oleh Mr. Mohammad Saiful Azam dâri Bangladesh, Jamia Ma’had UI Faqeer Al-Islami, yang dipimpin oleh Hadzrat Maulana Habibullah Ahmad dâri Pakistan dan Yayasan Teras Utama (YTU), yang dipimpin oleh Tan Sri Ahmad Zaki Ansore bin Mahdi Yusof dâri Malaysia. 

Penandatanganan tiga MoU tersebut menjadi bagian penting dari ikhtiar JATMAN dalam membangun hubungan kelembagaan dengan komunitas, lembaga pendidikan, pusat studi, dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap pengembangan tradisi tasawuf dan tarekat di tingkat internasional.

Saling Belajar Pengorganisasian Tarekat Naqshabandiyyah

Salah satu substansi penting dalam kerja sama tersebut adalah saling belajar mengenai pengorganisasian tarekat.

JATMAN memiliki pengalaman panjang dalam membangun tata kelola organisasi tarekat di Indonesia dengan menghimpun para ulama, mursyid, khalifah, dan pengamal berbagai thariqah mu‘tabarah dalam satu wadah organisasi. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal yang dapat dibagikan kepada mitra internasional. Sebaliknya, JATMAN juga membuka diri untuk mempelajari pengalaman dan praktik kelembagaan yang berkembang di berbagai negara.

Pertukaran pengalaman tersebut mencakup antara lain tata kelola organisasi, pembinaan jamaah, kaderisasi, pengembangan kelembagaan, koordinasi antarpengamal tarekat, pengelolaan kegiatan keagamaan, hingga strategi menjaga kesinambungan tradisi spiritual di tengah perubahan zaman.

Dalam konteks tersebut, konsep lesson learned menjadi salah satu bagian penting dari kerja sama. Setiap lembaga memiliki pengalaman, keberhasilan, tantangan, dan pembelajaran yang berbeda. Semua pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan bersama untuk memperkuat kelembagaan dan pelayanan kepada umat.

Dengan demikian, kerja sama yang dibangun bukanlah hubungan satu arah. JATMAN berbagi pengalaman, sekaligus belajar dari pengalaman mitra.

Saling Mengundang dan Mengunjungi Momentum Ritual

Kerja sama juga membuka ruang bagi saling mengundang dan mengunjungi berbagai momentum ritual dan kegiatan tarekat. Para pihak dapat saling menghadiri kegiatan seperti haul, manaqib, majelis dzikir, khataman, pengajian, seminar, konferensi, peringatan tokoh-tokoh tarekat, maupun kegiatan spiritual lainnya sesuai dengan tradisi masing-masing. Kunjungan tersebut memiliki arti penting karena mempertemukan para ulama, mursyid, pengasuh lembaga, akademisi, dan pengamal tarekat secara langsung.

Dari satu majelis ke majelis lainnya, para pihak dapat mengenal lebih dekat bagaimana tradisi spiritual diwariskan dan dikembangkan dalam konteks masyarakat yang berbeda. Silaturahmi semacam ini diharapkan memperkuat ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan sesama pengamal tarekat, sekaligus membuka ruang bagi kerja sama yang lebih luas.

Memperkuat Studi, Keilmuan, dan Riset Tasawuf

Kerja sama dengan Centre for Sufi Studies & Research secara khusus juga membuka ruang pengembangan kajian akademik dan penelitian mengenai tasawuf serta tarekat.

Pertukaran pengetahuan dapat dikembangkan melalui seminar, konferensi, diskusi ilmiah, penelitian bersama, publikasi, pertukaran narasumber, dokumentasi manuskrip, serta kajian sejarah dan perkembangan tarekat di berbagai kawasan. Khazanah turats dan sanad juga dapat menjadi salah satu bidang yang dikaji secara lebih sistematis, sehingga warisan intelektual dan spiritual para ulama terdahulu dapat terus dipelajari oleh generasi berikutnya. Upaya tersebut penting agar tradisi tarekat tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus dikaji secara ilmiah sekaligus dihidupkan dalam praktik kehidupan umat.

Pendidikan dan Kaderisasi Generasi Muda

Kerja sama dengan lembaga pendidikan dan keagamaan juga memberikan peluang untuk mengembangkan pendidikan dan kaderisasi generasi muda.

Program pertukaran pelajar atau santri, kuliah umum, pelatihan, forum kepemudaan, diskusi lintas negara, hingga program pendidikan bersama dapat dikembangkan sesuai kesepakatan para pihak. Generasi muda diperkenalkan kepada sejarah, sanad, ajaran, adab, dan tradisi spiritual tarekat sekaligus diarahkan untuk memahami dimensi sosial dari pengamalan agama. Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada pewarisan pengetahuan, tetapi juga mencakup pewarisan akhlak, adab, tanggung jawab sosial, dan semangat pengabdian kepada umat.

Membuka Ruang Kerja Sama Sosial dan Kemanusiaan

Kerja sama lintas lembaga tersebut juga dapat dikembangkan ke bidang sosial dan kemanusiaan. Nilai-nilai tasawuf seperti kasih sayang, keikhlasan, persaudaraan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama memiliki ruang aktualisasi yang luas dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, jejaring yang dibangun melalui MoU dapat diarahkan pada berbagai kegiatan sosial, pendidikan masyarakat, pemberdayaan, kebudayaan, dialog antar-komunitas, dan bentuk pengabdian lain yang memberikan manfaat nyata.

Dari Bukhara untuk Jejaring Naqshabandiyyah Dunia

Arah kerja sama tersebut menemukan relevansinya dengan tema yang disampaikan Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa dalam forum International Naqshbandi Conference 2026, yakni: “Peranan Naqshbandiyah dalam Melahirkan Kehidupan Sosial yang Damai dan Sejahtera.”

Dalam perspektif tersebut, tarekat memiliki ruang kontribusi yang luas dalam kehidupan sosial. Pendidikan spiritual yang menekankan dzikir, tazkiyatun nafs, pembentukan akhlak, dan kedekatan kepada Allah diharapkan berbuah pada kehidupan masyarakat yang damai, penuh persaudaraan, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Bukhara sendiri memberikan latar historis yang sangat kuat bagi momentum tersebut. Kota ini memiliki hubungan erat dengan sejarah perkembangan tradisi spiritual Islam dan perjalanan Thariqah Naqshbandiyah. Jejak Khwajah Bahauddin Naqshband dan tradisi Khwajagan yang tumbuh di kawasan Asia Tengah menjadi bagian penting dari sejarah panjang tarekat ini. Karena itu, penandatanganan MoU di Bukhara memiliki makna simbolik tersendiri. Ia mempertemukan pengalaman tarekat yang berkembang di Nusantara dengan tradisi dan jaringan spiritual yang tumbuh di kawasan Asia Tengah dan dunia Islam.

JATMAN membawa pengalaman Indonesia ke ruang internasional, sekaligus membuka diri untuk menerima pengalaman dan kebijaksanaan dari berbagai komunitas dan lembaga yang memiliki perhatian terhadap tasawuf dan tarekat.

Penandatanganan tiga MoU tersebut dengan demikian bukanlah akhir dari sebuah pertemuan, tetapi menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan. Dari tanda tangan, diharapkan lahir kunjungan dan silaturahmi. Dari silaturahmi, lahir pertukaran ilmu. Dari pertukaran ilmu, tumbuh kerja sama. Dan dari kerja sama, diharapkan hadir kemanfaatan yang lebih luas bagi umat dan kemanusiaan.

Dari Bukhara, jejaring Naqshabandiyyah dan dunia tasawuf menemukan ruang baru untuk mempertemukan sanad, ilmu, pengalaman kelembagaan, dan pengabdian sosial. Sanad menghubungkan generasi. Silaturahmi menghubungkan hati. Ilmu mempertemukan peradaban. Dan kerja sama mengubah persaudaraan menjadi pengabdian.

Bukhara menjadi saksi sebuah ikhtiar: mempertemukan warisan spiritual masa lalu dengan kebutuhan umat manusia hari ini, agar nilai-nilai Naqshbandiyah terus hidup dalam bentuk kedamaian, persaudaraan, ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan bagi kehidupan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine