BerandaBeritaPentingnya Mencari Mursyid

Pentingnya Mencari Mursyid

Jakarta, JATMAN Online

Pernahkah Anda berdiri di atas sajadah, bibir merapal doa, namun pikiran justru berkelana jauh ke hiruk-pikuk urusan duniawi? Fenomena ini bukan sekadar gangguan konsentrasi biasa. Dalam khazanah tasawuf, kondisi ini sering kali mencerminkan qaswah al-qulūb atau hati yang membeku dan kaku. Kita menyembah, namun batin terasa sunyi karena kita tidak benar-benar “mengenal” siapa yang kita sembah. Salat pun akhirnya hanya menjadi rutinitas fisik, sementara jiwa tetap haus akan kehadiran-Nya.

Mudir Ali JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa mengungkapkan jika kondisi di atas dialami oleh umat Islam pada umumnya, maka perlu ada seorang guru pembimbing untuk mencapai hakikat diri sendiri dan Allah Swt. 

“Dalam perjalanan menuju pengenalan Tuhan (makrifat), seseorang tidak mungkin mampu melintasi labirin jiwanya sendirian. Di sinilah peran penting seorang Mursyid—seorang pemandu rohani yang memberikan irsyād (petunjuk rohani). Perannya bukan sekadar mengajarkan teks hukum syariat, melainkan menghidupkan kembali ruḥ dalam ibadah kita. Tanpa bimbingan guru yang telah mengenal jalan tersebut, mustahil bagi seorang murid untuk mengenali hakikat dirinya sendiri, apalagi mencapai Sang Khalik.” jelasnya saat pengajian kitab Sirr al-Asrār karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Sabtu (27/6/2026).

Dalam konteks zaman sekarang, kehadiran Mursyid tetap tak tergantikan oleh ribuan buku teks. Mursyid adalah jembatan yang membawa pemahaman makrifat langsung ke dalam hati. Sebagaimana ungkapan: lawlā al-murabbī mā ʿaraftu rabbī (Kalaulah bukan karena pembimbingku (guru), niscaya aku tidak akan mengenal Tuhanku).

Mimpi dan Jiwa yang Suci

Kiai Ali menjelaskan bahwa mimpi dapat menjadi medium rohani bagi hamba-Nya untuk dapat bertemu Rasulullah saw. dan para kekasih Allah Swt.

“Bagi jiwa yang mulai bening, mimpi bukan lagi sekedar bunga tidur, melainkan media pertemuan rohani yang nyata. Atas kehendak Allah, ruḥ-ruḥ suci seperti Rasulullah saw. atau Syekh Abdul Qadir al-Jailani dapat hadir menyapa seorang mukmin. Penting untuk disadari bahwa setan tidak memiliki otoritas untuk menyerupai sosok-sosok suci tersebut.” ujarnya.

Fungsi dari mimpi itu dan dapat merefleksikan dirinya agar selalu menghidupkan hati, serta kadar kesucian seorang hamba.

“Pertemuan ini (mimpi) berfungsi sebagai taḥya al-qulūb (kekuatan yang menghidupkan hati agar tidak lagi membeku). Namun, jernih atau tidaknya perjumpaan tersebut sangat bergantung pada kadar kesucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan kedekatan emosional sang hamba. Mimpi tersebut adalah refleksi dari kebersihan batin; semakin suci cermin hati seseorang, semakin nyata pula pantulan cahaya suci yang diterimanya.” ungkap pengasuh Pasulukan Al-Masykuriyyah Jakarta tersebut.

Lalu bagaimana agar jiwa menjadi suci? Dalam tasawuf proses ini dilalui dengan tiga tahap, takhalli (mengosongkan diri dari sifat-sifat buruk dan egoisme), taḥalli (menghiasi diri dengan kedekatan kepada Allah dan kesibukan amal rohani) dan tajalli (tahapan di mana hijab dibuka, dan eksistensi Tuhan terasa nyata).

Agar mencapai tajalli, perlu metode konkret bagi seorang hamba.

“Untuk mencapai kedekatan yang memungkinkan terjadinya tajalli, seorang hamba harus menempuh metodologi dalam membersihkan “cermin” hatinya melalui dua pilar utama: tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa) dan taṣfiyah al-qalb (pembeningan mata hati).” ucapnya.

Mudir Ali juga menambahkan kunci mencapai keajaiban rahasia Allah salah satunya dengan memperbanyak zikir.

“Kunci utama untuk mencapai laṭāif al-ʿajībah (rahasia keajaiban) ini adalah melalui zikir yang konsisten, khususnya zikir latifah. Zikir ini bertujuan membeningkan tujuh titik halus dalam diri hingga hati menjadi sejernih kristal, siap menerima pantulan cahaya Ilahi.” tambahnya.

“Pada akhirnya, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya selama ini mengisi ruang terdalam hati kita? Apakah ia dipenuhi oleh kerisauan duniawi yang fana, ataukah mulai ada getaran rindu untuk “bertemu” dengan Sang Pencipta? Langkah pertama menuju cahaya itu dimulai dengan keberanian untuk mencari bimbingan dan mulai membersihkan cermin hati kita sendiri. Sebab hanya pada hati yang bening, cahaya-Nya akan bertakhta.” ucapnya di akhir pengajian.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine