BerandaUncategorizedMengapa Pengamal Tarekat Banyak yang Berhenti di Tengah Jalan?

Mengapa Pengamal Tarekat Banyak yang Berhenti di Tengah Jalan?

Oleh: Aden Jamaludin


Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya yang telah membuka pintu untuk mengenal dan ma’rifat kepada-Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Jalan Thoriqat adalah jalan penyucian bagi jiwa (tazkiyatun nafs) yang ditempuh oleh seorang salik untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit orang yang telah berbaiat, mengamalkan zikir, bersuluk, dan mengikuti jalan thoriqat, tetapi kemudian berhenti di tengah perjalanan.

Fenomena ini telah terjadi sejak dahulu.
Banyak orang memulai perjalanan ruhani dengan semangat yang tinggi, namun tetapi hanya sedikit yang mampu istiqamah hingga akhir hayat.

Padahal Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya:”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).”
(QS. Al-Hijr ayat : 99)

Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju Allah harus dilakukan terus menerus istiqomah hingga sampai akhir kehidupan.

📌 PENYEBAB SALIK BERHENTI DI TENGAH JALAN

Berikut penyebab penyebab seorang salik berhenti di tengah jalan.

  1. Lemahnya Niat dan Keikhlasan

Yang paling utama sekali penyebab nya adalah karena niat yang kurang ikhlas. Sebagian orang masuk thoriqat bukan karena ingin mencari ridho Allah, tetapi karena ingin mendapatkan karomah, ingin memperoleh kesaktian, ingin kemudahan dalam mencari rezeki, atau ingin mendapatkan sebuah kedudukan.

Namun Ketika harapan-harapan duniawi tersebut tidak tercapai, maka semangatnya pun mulai pudar dan perlahan lahan menghilang.

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya:”Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi seorang salik yang masuk dalam ajaran thoriqat dengan niat karena Allah , maka akan bertahan dan istiqomah sampai akhir hayatnya, sedangkan seorang salik yang masuk belajar ilmu Thoriqat karena selain Allah , maka akan mudah meninggalkannya.

  1. Tidak Sabar Menghadapi Ujian

Setiap salik pasti diuji.
Kadang diuji dengan kesulitan ekonomi, di uji dengan penyakit, di uji dengan fitnah manusia, kadang di uji karena konflik keluarga, bahkan kekeringan rasa dalam berzikir.

Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut ayat : 2)

Inilah salah satu sebab Banyak salik yang berhenti di tengah jalan karena mengira jalan untuk menuju Allah adalah jalan yang mudah dan tanpa ujian.

  1. Hati masih Terlalu Mencintai Dunia

Dunia adalah penghalang terbesar dalam perjalanan menuju Allah.
Jabatan, harta, bisnis, keluarga, dan kesibukan dunia sering kali membuat zikir berkurang, majelis ditinggalkan, dan suluk tidak lagi diminati.

Allah berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Artinya: Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. Al-A’la ayat : 16)

Ketika dunia masuk ke dalam hati, maka cahaya perjalanan ruhani mulai akan meredup.

  1. Kurangnya Adab kepada Mursyid

Dalam thoriqat, adab adalah kunci futuh ( pembuka)
Sebagian salik mulai mempertanyakan, meremehkan, atau bahkan ada yang menentang gurunya Akibatnya, keberkahan ilmu dan zikir berkurang.

Para ulama tasawuf berkata:
الأدب فوق العلم
Artinya: “Adab lebih tinggi daripada ilmu.”
Banyak salik kehilangan keberkahan bukan karena kurang zikir, tetapi karena kurang adab.

  1. Merasa Sudah Sampai

Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya.
Ketika seseorang merasa dirinya sudah mencapai Maqom ma’rifat, merasa sudah mengetahui rahasia-rahasia ruhani, maka saat itu sebenarnya ia sedang terjatuh.

Para wali Allah justru semakin tinggi maqamnya semakin merasa hina di hadapan Allah.

Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ
Artinya: Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci.” (QS. An-Najm ayat : 32)

  1. Kurangnya Istiqomah dalam Zikir

Banyak seorang salik yang semangat di awal mula masih jalan Thoriqat , tetapi kemudian menjadi malas.
Hari demi hari zikir berkurang.
Majelis ditinggalkan.
Suluk ditinggalkan.
Akhirnya hubungan ruhani dengan Allah menjadi lemah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Godaan Syaitan

Syaitan sangat takut kepada orang yang berjalan menuju Allah.
Karena itu ia akan menggoda dengan berbagai cara:

  • Menanamkan rasa malas.
  • Menanamkan keraguan.
  • Membisikkan kebencian kepada guru.
  • Membuat sibuk dengan urusan dunia.
  • Menimbulkan rasa bosan dalam berzikir.

Allah berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
Artinya:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu.”
(QS. Fathir ayat : 6)

❤️ SARAN UNTUK SEORANG SALIK YANG SUDAH MENINGGALKAN THORIQAT

Wahai saudaraku…
Jika engkau pernah berada dalam majelis zikir, pernah menangis karena Allah, pernah merasakan manisnya dzikir dan suluk, maka janganlah putus asa.

Pintu Allah tidak pernah tertutup.
Kembalilah….
Kembalilah kepada Allah.
Kembalilah kepada zikir.
Kembalilah kepada majelis ilmu.
Kembalilah kepada guru yang dahulu membimbingmu.

Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar ayat : 53)

❤️ APA AKIBAT JIKA SESEORANG YANG SUDAH BERTHORIQAT LALU MENINGGALKANNYA…?

Pertama-tama perlu dipahami bahwa yang wajib dalam agama adalah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Adapun thoriqat adalah jalan pembinaan ruhani yang membantu seorang hamba untuk lebih dekat kepada Allah melalui dzikir, muraqabah, mujahadah, dan bimbingan mursyid.
Jika seseorang meninggalkan amalan thoriqat, maka akibatnya berbeda beda sesuai keadaan orang tersebut.

1 Berarti mengingkari janji setia kepada Allah.

Sebab seorang salik sebelum memasuki jalan Thoriqat telan mengambil Talqin dan baiat kepada guru Mursyid nya.
Secara syariat nya seorang salik duduk di hadapan guru Mursyid berbaiat namun pada haqiqat nya adalah ia berjanji kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ ۚ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
Artinya
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa melanggar janjinya, niscaya akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath ayat : 10)

Beberapa pelajaran penting dari ayat ini:
Berbaiat kepada guru Mursyid adalah seperti berbaiat kepada Rasulullah ﷺ. Sebab para guru Mursyid ( ulama ) itulah mereka para pewaris nabi. Dan ini juga adalah bentuk ketaatan kepada Allah.
Janji kepada Allah tidak boleh diingkari.
Orang yang melanggar baiat atau janji akan menanggung akibatnya sendiri.
Orang yang istiqamah dan menepati janji kepada Allah akan memperoleh pahala yang besar.

Kalimat “يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ” (Tangan Allah di atas tangan mereka) menunjukkan pertolongan, kekuasaan, dan pengawasan Allah terhadap baiat tersebut, sesuai dengan kebesaran-Nya.

  1. Hati Kembali gelap.
    Dzikir yang dahulu menjadi makanan bagi Ruh berkurang atau hilang, sehingga hati menjadi keras, gelap dan mudah lalai.
    Allah berfirman:
    وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
    Artinya: Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)
  2. Nafsu Lebih Mudah Menguasai Diri.
    Amalan thoriqat bertujuan membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs). Ketika amalan ditinggalkan, maka nafsu yang dahulu sudah mulai terkendali akan dapat kembali menguat dan mengajak kepada kejahatan.
    Sebagaimana Allah berfirman:
    إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
    Artinya: Sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan.”
    (QS. Yusuf ayat : 53)
  3. Hilangnya Cahaya Ruhani.
    Dzikir dan suluk ibarat lampu cahaya penerang bagi hati.
    Jika lampu tidak lagi dinyalakan, maka cahaya ruhani berangsur-angsur redup.
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.”
    (HR. Bukhari)
  4. Sulit Merasakan Kehadiran Allah dalam Hati.
    Seorang salik yang dahulu terbiasa berwuquf qalbi, muraqabah, dan dzikir akan merasakan perbedaan ketika amalan zikir itu ditinggalkan. Hatinya menjadi lebih sibuk dengan urusan dunia dan lebih sulit menghadirkan Allah dalam kesadaran batinnya.
  5. Kehilangan Keberkahan Majelis dan Silaturahim Ruhani.
    Meninggalkan thoriqat sering menyebabkan seseorang menjauh dari majelis dzikir, para salihin, dan lingkungan yang mengingatkan kepada Allah.
    Allah berfirman:
    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ
    Artinya: “Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya.”
    (QS. Al-Kahfi ayat : 28)
  6. Terhambatnya jalan Menuju Ma’rifatullah.
    Perjalanan ruhani membutuhkan istiqamah. Ketika seorang salik berhenti di tengah jalan, maka perjalanan yang sedang ditempuh menjadi terhenti dan harus dimulai kembali dengan kesungguhan yang baru.
    Namun perlu diingat, pintu taubat dan kembali kepada Allah tidak pernah tertutup.
    Allah berfirman:
    قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
    Artinya:
    Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
    (QS. Az-Zumar ayat 53)

❤️Jika Sudah Meninggalkan Thoriqat, Apa yang Harus Dilakukan…?

  • Bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
  • Mulai kembali mengerjakan amalan zikirnya sedikit demi sedikit.
  • Berusaha hadir kembali ke majelis dzikir gurunya.
  • Menjalin kembali hubungan dengan mursyid atau khalifah pembimbing.
  • Memohon kepada Allah agar diberi istiqamah.

❤️ Pesan dan kesan
Wahai saudaraku yang pernah merasakan manisnya dzikir, janganlah merasa malu untuk kembali.
Allah tidak pernah menolak hamba yang datang kepada-Nya dengan hati yang menyesal.
Mungkin engkau pernah jauh, tetapi Allah tetap dekat.
Mungkin engkau pernah berhenti, tetapi jalan menuju Allah masih terbuka.
Mungkin langkahmu terhenti, tetapi rahmat Allah tidak pernah berhenti mengalir.
Kembalilah kepada dzikir…
Kembalilah kepada majelis para salihin… kembalilah kepada Allah.
Karena kemuliaan seorang salik bukanlah karena tidak pernah jatuh, tetapi karena selalu bangkit dan kembali berjalan menuju Rabb-nya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut ayat : 69)

Istiqamah dalam Thoriqat lebih utama daripada banyak karomah, karena istiqamah adalah tanda pertolongan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

❤️ Penutup:

Wahai para pencari Allah…
Jangan berhenti di tengah jalan.
Jangan tinggalkan jalan yang dahulu telah mempertemukanmu dengan tangisan taubat.
Jangan tinggalkan jalan yang dahulu membuat hatimu menjadi hidup…
Mungkin hari ini engkau merasa jauh dari Allah.
Mungkin zikir yang dahulu manis kini terasa hambar.
Mungkin langkahmu terasa berat.
Tetapi ketahuilah…

Bukan engkau yang mencari Allah.
Sejak awal Allah-lah yang memanggilmu.
Jika dahulu Allah telah memilihmu untuk mengenal jalan-Nya, maka jangan sia-siakan panggilan itu….
Teruslah berjalan walaupun perlahan.
Teruslah berzikir walaupun sedikit.
Teruslah mengetuk pintu-Nya walaupun berkali-kali.

Karena para wali Allah bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh.
Melainkan mereka yang setiap kali jatuh, selalu bangkit dan kembali kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqomah hingga akhir hayat.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.”

Wallahu’alam

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine