BerandaBeritaKetua PCNU Pringsewu Tekankan Peran Tarekat sebagai Benteng Spiritual di Era Sanawāt...

Ketua PCNU Pringsewu Tekankan Peran Tarekat sebagai Benteng Spiritual di Era Sanawāt Khaddā’āt

Pringsewu, JATMAN Online

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu, H Muhammad Faizin, mengajak umat Islam memperkuat pendidikan spiritual melalui tarekat muktabarah di tengah tantangan zaman yang disebut sanawāt khaddā’āt atau masa penuh tipu daya.

Menurut H Muhammad Faizin, perkembangan zaman modern yang ditandai dengan derasnya arus informasi, maraknya berita palsu (hoaks), serta munculnya banyak pihak yang menyampaikan pendapat tanpa dasar keilmuan yang kuat menjadi tantangan serius bagi umat. Oleh karena itu, diperlukan ketahanan rohani agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang mengelilinginya.

Hal tersebut disampaikan H Muhammad Faizin saat memberikan sambutan di Pengajian Umum JATMAN Kabupaten Pringsewu dalam rangka Haul Syeikh Busthomil Karim dan para masyayikh di halaman Majelis Busthomiyah Pringsewu, Senin malam (13/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan kembali pesan Rasulullah saw mengenai kondisi akhir zaman yang penuh dengan fitnah dan kegalauan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Pada masa itu orang yang berdusta percaya, orang yang jujur ​​didustakan, penjahat diberi amanah, orang yang amanah dianggap berkhianat, dan pada masa itu akan berbicara ruwaibidah.”

Para sahabat kemudian bertanya mengenai makna ruwaibidah . Rasulullah saw menjelaskan bahwa ruwaibidah adalah orang yang tidak memiliki kapasitas, tetapi ikut berbicara dalam urusan masyarakat luas.

H Muhammad Faizin menyebut hadis tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini, khususnya di era digital ketika setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat mengenai berbagai persoalan, termasuk masalah agama dan kehidupan sosial.

“Di zaman sekarang, siapa pun dapat berbicara tentang agama maupun urusan publik meskipun tidak memiliki ilmu, adab, dan sanad keilmuan yang jelas. Kondisi ini membuat masyarakat rentan terpengaruh oleh opini yang keliru, hoaks, hingga provokasi yang dapat menimbulkan perpecahan,” ujarnya.

Tarekat Muktabarah sebagai Pendidikan Akhlak dan Penguatan Jiwa

Menurut Ketua PCNU Pringsewu tersebut, salah satu warisan penting ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang harus terus dijaga adalah tradisi tarekat muktabarah.

Ia menegaskan bahwa tarekat bukan hanya berkaitan dengan aktivitas zikir, tetapi merupakan metode pendidikan spiritual yang bertujuan membersihkan hati, mengendalikan hawa nafsu, membentuk akhlak mulia, serta meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan ibadah.

“Tarekat mengajarkan zikir, mujahadah, kedisiplinan dalam beribadah, serta menjaga adab kepada guru dan sesama manusia. Seseorang yang mendapatkan pendidikan rohani melalui tarekat akan lebih mampu mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi, dan mengedepankan tabayun sebelum menyampaikan informasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendidikan dalam tarekat juga menekankan pentingnya mengikuti bimbingan ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan terpercaya.

Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah saw:

“Ikutilah para alim ulama karena sesungguhnya mereka adalah penerang dunia dan lampu akhirat.”

Menurutnya, pesan tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak sembarangan menjadikan seseorang sebagai acuan dalam persoalan agama. Ulama memiliki peran penting sebagai penerus ajaran para nabi yang membimbing umat berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, serta tradisi keilmuan yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ketika Rasulullah saw memerintahkan kita mengikuti ulama, maka yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki ilmu, akhlak, dan tanggung jawab moral. Jangan sampai kita lebih mengikuti orang yang hanya pandai berbicara, tetapi tidak memiliki kedalaman ilmu maupun keteladanan,” katanya.

Haul Masyayikh Jadi Momentum Menghidupkan Tradisi Spiritual

H Muhammad Faizin berharap kegiatan haul para masyayikh tidak hanya menjadi acara untuk mengenang jasa para ulama terdahulu, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kembali pendidikan spiritual umat Islam melalui ajaran tarekat.

Ia mengajak masyarakat agar tetap menjaga hubungan dengan para ulama dan masyayikh sebagai pembimbing umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Di tengah banyaknya suara yang membingungkan, jangan pernah melepaskan diri dari bimbingan ulama dan para masyayikh. Insyaallah, selama kita berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, dan tutunan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, kita akan mampu menghadapi berbagai fitnah zaman tanpa kehilangan arah,” tutupnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Pringsewu Hj Umi Laila, Rais Syuriyah PCNU Pringsewu H Muhammad Hambali, Katib Syuriyah PCNU Pringsewu H Taufik Qurrohim, Mudir JATMAN Pringsewu Abah Anom Syekh Mufassirin, serta Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah H Ahmad Tajalli.

Penulis: Dian Ramadhan
Sumber: NU Online Lampung

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine