BerandaBeritaMursyid Idrisiyyah Bahas Integrasi Tasawuf dan Ketenangan Spiritual

Mursyid Idrisiyyah Bahas Integrasi Tasawuf dan Ketenangan Spiritual

Semarang, JATMAN Online

Mursyid Tarekat Idrisiyyah sekaligus Rais Idarah Aliyah JATMAN, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag., menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Nasional Tasawuf dan Psikoterapi di UIN Walisongo Semarang, Senin, (21/9/2026).

Mengangkat tema “Merawat Jiwa di Era Digital: Integrasi Tasawuf dan Psikoterapi Menuju Ketenangan Spiritual”, seminar ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 26 tahun Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo.

Dalam forum tersebut, Syekh Akbar menguraikan tasawuf sebagai ilmu yang berkaitan dengan keadaan jiwa, batin, qalbu, dan nafs. Menurutnya, persoalan manusia di tengah perkembangan teknologi tidak cukup dijawab dengan pendekatan intelektual semata, tetapi membutuhkan proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Ia juga menekankan pentingnya latihan spiritual seperti menjaga lisan, mengurangi kesibukan yang melalaikan, berpuasa, dan menghidupkan ibadah malam sebagai bagian dari pembentukan kecerdasan spiritual dan integritas manusia.

Salah satu bagian menarik dalam seminar tersebut disampaikan moderator, Dr. Sulaiman, M.Ag., dosen sekaligus Lektor Kepala pada Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo. Dalam pengantarnya, ia menceritakan perjalanan intelektual dan spiritualnya yang mempertemukan dirinya dengan dua sosok guru dalam bidang tasawuf. Prof. Dr. Abdul Muhaya, M.A. menjadi salah satu gurunya dalam perjalanan akademik dari jenjang S1 hingga S3, khususnya dalam memahami teori tasawuf. Sementara Syekh Akbar menjadi guru dalam pengalaman praktik tarekat.

Seminar Nasional Tasawuf dan Psikoterapi di UIN Walisongo Semarang

Yang lebih menarik, Dr. Sulaiman mengungkapkan bahwa pandangannya tentang pentingnya seorang pembimbing dalam tasawuf pernah berbeda. Ia sebelumnya beranggapan bahwa seseorang dapat menekuni tasawuf tanpa harus memiliki guru atau pembimbing tarekat. Namun, pandangan tersebut berubah setelah ia berbaiat dan berguru kepada Syekh Akbar. Dari pengalaman tersebut, ia mengaku memperoleh pengalaman spiritual yang membuatnya memahami bahwa perjalanan tasawuf juga membutuhkan bimbingan seorang guru spiritual.

Pengalaman itu kemudian ia hubungkan dengan perjumpaannya dengan konsep “zuhud modern” yang ia temukan dalam perjalanan mengenal Tarekat Idrisiyyah. Ia menuturkan bahwa sebelumnya ia memperoleh penjelasan mengenai konsep tersebut dari Prof. Amin Syukur dan kemudian diarahkan untuk melihat praktiknya secara langsung di Idrisiyyah. Pertemuan antara pemahaman akademik dan pengalaman praktik tersebut, menurut kesaksiannya, memberikan perspektif yang lebih utuh mengenai hubungan antara ilmu tasawuf dan kehidupan tarekat.

Seminar tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan tasawuf di tengah era digital tidak berhenti pada persoalan teori, tetapi juga menyentuh bagaimana manusia merawat batin, menemukan ketenangan, dan menjalani kehidupan spiritual secara lebih terarah. Bagi tradisi tarekat, pengalaman Dr. Sulaiman juga menunjukkan salah satu dimensi penting perjalanan tasawuf: ilmu, pengalaman, dan bimbingan mursyid dapat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam proses pembinaan jiwa.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine