Banyuwangi, JATMAN Online
Sabtu (24/10), Thariqah Dusuqiyah Muhammadiah (TDM) menggelar Multaqo Sufi Internasional sekaligus Peringatan Maulid Syekh Ibrahim ad-Dusuqi di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Sumberberas Muncar Banyuwangi Jawa Timur, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemuka NU, tokoh JATMAN, dan ulama tarekat dari berbagai kalangan, baik dalam maupun luar negeri.
Pembahasan dalam forum tersebut berlangsung dalam suasana keilmuan dan spiritual, dengan penekanan pada pentingnya membersihkan hati, menjaga adab, serta memperkuat ikatan persaudaraan di antara para pengamal tarekat.
Turut hadir sebagai narasumber, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Fachruddin Mannan yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara aspek lahiriah (syariat) dan aspek batiniah (hakikat) dalam kehidupan beragama
“Kehidupan beragama memerlukan keseimbangan antara keduanya. Ia mengibaratkan manusia seperti kendaraan yang harus memiliki kondisi bodi dan mesin yang sama-sama baik. Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa kesempurnaan kehidupan beragama tidak cukup hanya dengan memperhatikan aspek lahiriah, tetapi juga memerlukan pembinaan hati dan jiwa” ungkap Kiai Mannan.
Ia juga menekankan peran tarekat mu‘tabarah dalam pembinaan akhlak dan pendalaman spiritual seorang Muslim.
“Tarekat pada dasarnya dapat menjadi jalan pembinaan spiritual selama mengikuti tarekat yang mu’tabarah, yakni tarekat yang diakui dan memiliki landasan keilmuan serta sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan utamanya adalah membersihkan hati dan memperbaiki kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah Swt.” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Mudir Ali JATMAN, KH. Musthofa Qutby Badri menyoroti urgensi guru spiritual dalam tradisi tasawuf.
“Kita dapat meneladani Mbah Siroj Payaman yang menekankan pentingnya mencari guru sebagai pembimbing spiritual agar seorang murid dapat menempuh jalan menuju Rasulullah Saw. dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Musyahadah dengan guru sebagai bagian dari latihan spiritual, karena gambaran dan keteladanan seorang mursyid menjadi pedoman bagi murid dalam menjalani suluk.” kata Kiai Badri di hadapan peserta Multaqo.
Di kegiatan yang sama, Ketua PCNU Banyuwangi, KH. Sunandi Zubaidi, M.Pd. (Yai Su’un) memaparkan bahwa pedoman JATMAN mengenai tarekat mu’tabarah memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk menentukan jalan pembinaan spiritual yang memiliki dasar keilmuan dan bimbingan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Pedoman JATMAN mengenai tarekat mu‘tabarah menjadi panduan bagi umat Islam dalam memilih jalan pembinaan spiritual yang memiliki landasan keilmuan, sanad yang jelas, serta bimbingan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Yai Su’un.
Ia menambahkan bahwa penolakan terhadap tarekat dapat terjadi karena ketidaktahuan, namun penolakan juga dapat muncul dari anggapan seseorang bahwa dirinya telah mencapai kedekatan dengan Allah tanpa memerlukan proses bimbingan spiritual.
Yai Su’un menghubungkan pembahasan tersebut dengan tiga dimensi agama, yaitu Islam, iman, dan ihsan. Dalam kerangka pemahaman tasawuf yang disampaikannya, tarekat merupakan jalan untuk menghayati dimensi ihsan, yakni beribadah kepada Allah dengan kesadaran spiritual yang mendalam.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila tarekat mu’tabarah secara keseluruhan dinyatakan sebagai bid’ah tanpa pemahaman yang memadai, maka pandangan tersebut perlu diluruskan melalui penjelasan ilmiah, argumentasi keagamaan, dan dialog yang bijaksana.
Dorong Pemuda Perkuat Spiritual dan Akhlak di Era Digital
Dalam sesi mengenai peran pemuda dalam tarekat, Rais Syuriah Idarah Syu’biyah JATMAN Banyuwangi, KH. Saifuddin Zuhri, S.Ag. menyoroti tantangan generasi muda yang semakin kompleks di era digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi perlu disikapi secara bijaksana agar memberikan manfaat bagi kehidupan dan mendukung terbentuknya pribadi yang mulia. Ia mengingatkan bahwa kemudahan akses informasi dan luasnya penggunaan teknologi juga membawa tantangan tersendiri, terutama ketika berbagai konten dapat mendorong perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Oleh karena itu, paparnya, generasi muda perlu memiliki benteng spiritual dan moral yang kuat. Salah satu jalan yang ia tawarkan adalah mengikuti tarekat sebagai sarana pembinaan akhlak, pengendalian diri, dan penguatan hubungan dengan Allah Swt. Ia juga mendorong para pemuda yang mengikuti tarekat untuk bergabung dalam organisasi GEMATAN (Generasi Muda dan Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) sebagai wadah pengembangan diri, kebersamaan, dan penguatan peran generasi muda dalam tradisi spiritual.
Dalam kesempatan yang sama, Ust. M. Tsabit Valiya Thodiyil, M.A. dari Kerala India menyampaikan kebahagiaannya dapat menghadiri Multaqo Sufi Internasional TDM di Indonesia. Ia menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga perilaku dan akhlak, baik terhadap sesama pengamal tarekat maupun masyarakat luas. Pesan tersebut, menurutnya, sejalan dengan nasihat Maulana Sayyid Dr. Jamal Mukhtar Ali Muhammad ad-Dusuqi yang menekankan bahwa seorang murid harus mampu menunjukkan perilaku yang baik dalam kehidupan sosial.
Ust. Tsabit mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama memanjatkan doa agar senantiasa diberikan kekuatan dalam menjaga ikatan persaudaraan, mempererat hubungan antar sesama, dan melanjutkan perjuangan spiritual dengan penuh keikhlasan.
Rangkaian pemaparan para narasumber memperlihatkan beragam aspek penting dalam tradisi tarekat, mulai dari pembinaan batin, adab terhadap guru, pemahaman mengenai tarekat mu’tabarah, hingga penguatan karakter generasi muda. Pesan yang mengemuka ialah bahwa perjalanan spiritual tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga harus tercermin dalam akhlak, tanggung jawab sosial, dan perilaku yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Karena itu, Mudir Idarah Syu’biyah JATMAN Banyuwangi, Dr. KH. M. Bisri Ihwan, Lc., M.Pd. berharap, Multaqo Sufi Internasional yang dirangkai dengan Peringatan Maulid Syekh Ibrahim ad-Dusuqi ini menjadi ruang untuk bertukar pandangan dan memperkuat silaturahmi di antara para tokoh serta pengamal tarekat. “Melalui penguatan ilmu, bimbingan ulama, pembinaan akhlak, dan persaudaraan, tradisi tasawuf diharapkan terus memberikan kontribusi positif bagi kehidupan umat Islam serta menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasinya,” ujarnya.
Pewarta: Abdul Aziz Sukarnawadi
Editor: Syahril Mubarok



